
Nama Ali Ibrahim tidak bisa dilepaskan dari sejarah Pasundan United FC, beliau adalah Pioneer dan Man of Behind Berdirinya Klub sepak Bola Pasundan United FC.
Sekitar tahun 2015-2017, di Brunei Darussalam ada 9 komunitas Sunda baik yang besar (banyak anggotanya) atau pun yang kecil. Walaupun tidak secara terang-terangan, tapi dapat ditangkap adanya persaingan, seperti dalam menghimpun anggota atau saling menonjolkan diri dalam berbagai kegiatan. Timbullah keinginan dalam diri kang Ali dan dorongan dari beberapa teman untuk mendirikan klub sepak bola yang dapat mempersatukan komunitas-komunitas Sunda tersebut.
Kang Ali menggagas pendirian "Sunda FC" sebagai tim sepakbola yang dikhususkan bagi orang-orang sunda yang berada di Brunei Darussalam. Gagasan ini menuai pro dan kontra karena waktu itu sudah ada tim sepakbola milik salah satu komunitas orang Sunda terbesar di Brunei, di mana penulis juga tergabung di dalamnya sebagai pengurus dan penggerak. Sehingga waktu itu penulis termasuk golongan yang menolak gagasan tersebut.
Penolakan dan cacian banyak diterima oleh kang Ali, namun beliau tetap berusaha dan melakukan pendekatan yang persuasif kepada ketua-ketua komunitas Sunda. Sekitar akhir tahun 2016 gagasan kang Ali mulai berpangaruh besar kepada tim sepakbola yang diurus oleh penulis. Satu persatu pengurus hengkang mengikuti konsep kang Ali. Hingga pada bulan Oktober 2016, tim sudah tidak sehat.
Akhirnya penulis mengadakan pertemuan dengan Asep Iskandar (Pelatih), Abdul Hadi (Pemain), Okta (Kapten Tim), Junot (Pemain) dan Zaki (Pemain) untuk membicarakan hal tersebut. Setelah hampir 5 kali mengadakan meeting dengan suasana perdebatan yang alot, akhirnya ke-5 pendiri tim dan penulis sepakat untuk bergabung dengan konsep kang Ali.
Kemudian penulis segera mengadakan rapat antara pengurus tim sepakbola dengan pengurus komunitas Sunda yang menaungi tim. Pengurus dari komunitas Sunda secara terang-terangan menolak usul kami untuk bergabung dengan konsep kang Ali. Hal ini membuat gejolak makin membesar, banyak pemain berhenti dan bahkan keluar dari tim.
Demi menyelamatkan tim serta menghindari konflik yang mungkin nanti akan timbul, pada akhir bulan Januari 2017, penulis dan ke-lima pendiri mengadakan pertemuan. Hasil pertemuan memutuskan kami menyetujui dan menyatakan bergabung dengan konsep kang Ali, walaupun harus melawan kepada komunitas Sunda yang menaungi kami.
Pada rapat besar, 27 Februari 2017, lahirlah tim sepakbola Sunda baru yang merupakan gabungan dari 8 Komunitas Sunda dengan nama "Pasundan United FC". Kang Ali Ibrahim dengan bijaksana menolak penunjukkan atas dirinya sebagai ketua, dan menyarankan sebaiknya ketua berasal dari salah satu Ketua Komunitas Sunda Pendukung. Maka pilihan menjadi ketua jatuh pada Kang Herman yang merupakan Ketua Komunitas Sunda Sadulur Baraya Sunda Bersatu (SBSB). Sementara Kang Ali lebih memilih memegang jabatan sebagai Bendahara sehingga bisa lebih fokus bertanggung jawab atas pengadaan dana bagi Tim. Penulis sendiri ditunjuk sebagai Sekretaris, dan Asep Iskandar dipercaya sebagai Manager Tim Pasundan United FC.
Pada Bulan Agustus 2017 kesibukan kang Ali makin bertambah akibat kenaikan jabatan di tempatnya bekerja. Hal ini membuat beliau tidak mempunyai waktu luang yang cukup dan dengan sangat terpaksa mengundurkan diri dari kepengurusan tim pada Bulan Desember 2017. Pasundan United kehilangan sosok pendiri sekaligus Bendahara yang handal bagi Tim. Pengunduran diri Kang Ali menyebabkan keuangan banyak merosot dan Tim mulai terseok-seok. Tapi roda Pasundan United FC tetap terus berjalan hingga saat ini walaupun dengan sangat lambat.
Terima kasih kang Ali, atas gagasan nya mendirikan klub sepak bola yang benar-benar mewakili kami suku Sunda yang berada di Brunei Darussalam. Tanpa Kang Ali, Pasundan United FC tidak akan Pernah ada, jasamu akan selalu kami kenang selamanya. (Budi Julianto)